Bupati Kepulauan Sitaro: "Peristiwa Merah Putih Bukan Sekadar Agenda Tahunan"

Sitaro, -Jurnaliswarga62- Bupati Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Chyntia Ingrid Kalangit, S.KM turut menghadiri Upacara Peringatan Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 yang digelar di Lapangan Koni Sario, Manado, Sabtu (14/2/2026).

Momentum bersejarah tersebut menjadi ajang refleksi bersama atas perjuangan rakyat Sulawesi Utara dalam mempertahankan kemerdekaan. 

Dalam momen tersebut, kehadiran Bupati Sitaro begitu mencuri perhatian ketika mengenakan pakaian adat khas Sitaro yang bernuansa kuning keemasan dan dipadukan dengan bandang atau selendang, sebagai simbol identitas budaya yang tetap menyatu dengan semangat kebangsaan.

Upacara Peringatan Peristiwa Merah Putih tersebut dipimpin langsung oleh Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus berlangsung secara khidmat, dan terpantau seluruh kepala daerah kabupaten / kota di Sulut turut hadir mengikuti rangkaian kegiatan hingga parade defile yang ditampilkan usai upacara.

Usai kegiatan, Bupati Chyntia menegaskan bahwa Peristiwa Merah Putih tidak boleh dimaknai sekadar sebagai agenda tahunan, melainkan harus menjadi pengingat nilai-nilai dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Peristiwa Merah Putih adalah simbol keberanian, persatuan, dan harga diri daerah. Nilai perjuangan itu harus terus kita hidupkan dalam kepemimpinan dan pelayanan kepada masyarakat,” ujar Chyntia Kalangit.

Sebagai kepala daerah perempuan, ia juga menyoroti pentingnya kepemimpinan yang mampu menjaga keseimbangan antara ketegasan dan empati, terutama dalam merawat persatuan di tengah keberagaman.

“Perempuan dalam kepemimpinan memiliki tanggung jawab untuk merawat persatuan dengan pendekatan yang humanis namun tetap tegas. Pembangunan harus berjalan, tetapi nilai kebangsaan dan solidaritas tetap menjadi fondasi,” tambahnya.

Suasana kebersamaan terlihat semakin akrab saat para kepala daerah saling bersalaman dan berdialog dengan Gubernur Sulut serta Ibu Anik Yulius Selvanus di bawah tribun Lapangan Koni Sario, sebagai tanda menutup seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh nuansa persatuan dan kekeluargaan. (SS)

Komentar